
Delapan tahun sudah sejak tahun 2003 Nurdin Halid memimpin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Selama menjabat, tim nasional Indonesia yang dulu sangat disegani di Asia tidak pernah mencicipi prestasi. Jika menengok ke belakang, terakhir kali Indonesia meraih prestasi adalah medali emas cabang olahraga sepak bola SEA Games Manila (Filipina) 20 tahun yang lalu.
Nurdin Halid beserta antek-anteknya terkenal dengan praktik korupsinya, dia menjalankan organisasi dari balik terali besi penjara, mengumumkan ide menaturalisasikan pemain asing, menambah jumlah peserta Liga Indonesia tiap tahun sehingga tidak ada klub yang terdegradasi, menentang penghentian pengucuran dana APBD untuk klub, dan mengurangi sanksi Persebaya yang sebelumnya terlibat kerusuhan pertandingan secara besar-besaran (dari larangan main di kandang selama dua tahun menjadi hanya larangan sebanyak 3 kali pertandingan kandang).
Pada 13 Agustus 2007, Ia kembali divonis dua tahun penjara akibat tindak pidana korupsi dalam pengadaan minyak goreng. Berdasarkan standar statuta FIFA, seorang pelaku kriminal tidak boleh menjabat sebagai ketua umum sebuah asosiasi sepak bola nasional. Karena alasan tersebut, Nurdin didesak untuk mundur dari berbagai pihak, antara lain Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI saat itu), Ketua KONI, dan bahkan FIFA menekan Nurdin untuk mundur. FIFA bahkan mengancam untuk menjatuhkan sanksi kepada PSSI jika tidak diselenggarakan pemilihan ulang ketua umum. Akan tetapi Nurdin bersikeras untuk tidak mundur dari jabatannya sebagai ketua PSSI, dan tetap menjalankan kepemimpinan PSSI dari balik jeruji penjara. Agar tidak melanggar statuta PSSI, statuta mengenai ketua umum yang sebelumnya berbunyi "harus tidak pernah terlibat dalam kasus kriminal" (“They..., must not have been previously found guilty of a criminal offense....") diubah dengan menghapuskan kata "pernah" ("have been previously") sehingga artinya menjadi "harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal" ("... must not found guilty of a criminal offense..."). Setelah masa tahanannya selesai, Nurdin kembali menjabat sebagai ketua PSSI.
Pada deklarasi calon gubernur Sulawesi Tenggara dari Partai Golkar, Nurdin Halid mengklaim 'sukses' tim nasional Indonesia pada Piala Suzuki AFF 2010 adalah karya Partai Golkar (tai!). Hal ini bertentangan dengan Statuta FIFA yang melarang keras politisasi sepak bola. Pernyataan tersebut dikecam oleh beberapa pihak, termasuk Sekretaris PSSI dan Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung.
Semua ini bermuara kepada antipati masyarakat Indonesia, khususnya pecinta sepak bola nasional, terhadap Nurdin Halid dan antek-antek cecunguknya. PSSI di bawah komando Nurdin Halid mandul, baik internal maupun eksternal. Tak ada yang perlu dikagetkan sebenarnya. Bagaimana mungkin sepak bola kita tangguh dan disegani, bila Nurdin Halid dan semua pengurus PSSI melakukan kebohongan berjamaah?
Jika saya simak dari cerita di sini, kiprah Nurdin Halid di PSSI sepertinya tidak lama lagi. Nurdin Halid selesai sudah. Kalaupun ia masih akan memimpin PSSI lagi, saya jamin nasib Nurdin Halid akan berakhir dengan pembantaian massal oleh rakyat Indonesia (Isu "Nurdin Turun" akan berubah menjadi, well, "Nurdin Mati"). Dengan ketua serta pengurus baru, PSSI coba bangkit. Menata sepak bola dalam negeri agar lebih profesional, salah satunya menghentikan pengucuran dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

Saya kutip dari sini, namun jangan sampai kita justru menjadi pembuka jalan bagi pemimpin baru yang jauh lebih parah untuk berkuasa. Karena itu, untuk teman-teman suporter, jika tujuan dari semua aksi ini adalah untuk menjatuhkan (atau membunuh) Nurdin, mungkin sebaiknya segera dirubah. Tujuan dari aksi ini adalah kemajuan sepakbola Indonesia, dan turunnya Nurdin hanya menjadi langkah awal untuk kemajuan sepakbola Indonesia.
Sumber:










